"Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga." (Kis 15: 7-11)

Cara pandang itu mewarnai diskusi dalam Sinode Pertama Keuskupan Agung  ketika Ibu Yanti Graito menguraikan kebutuhan pastoral umat Jakarta menjelang akhir abad keduapuluh itu. Gereja dengan penuh semangat menghidupkan paroki,- cara pastoral yang berabad-abad telah menyebabkan umat Jakarta terlayani. Namun, pertumbuhan umat dan cara hidupnya telah sedemikian, sehingga variasi dan mobilitasnya meminta perhatian pastoral baru. Jelas bahwa setiap orang mempunyai alamat dan tempat tinggal: entah dalam keluarga, entah dalam pondokan. Namun, kalau dulu tempat tinggal itu begitu menentukan dan mempengaruhi hidup sosial orang, maka sejak menjelang akhir millenium kedua, orang terdesak oleh kebutuhan kerja, kelincahan bergerak dan keanekaan pemenuhan kebutuhan hidup sehingga banyak hal baru memainkan peranan hidup umat. Tempat tinggal tidak selalu dapat ditentukan selaras dengan selera dan posisi religius. Tempat kerja dapat berubah setiap beberapa waktu. Jalur lalu lintas meminta perhatian besar baik bagi orang tua maupun bagi anak-anak, yang masih membutuhkan tempat sekolah yang tidak begitu saja sesuai dengan tempat tinggal. Semakin mahalnya tempat tinggal dan biaya hidup menyebabkan pembagian lingkungan, wilayah dan paroki tidak senantiasa mendukung terbentuk dan langgengnya paguyuban umat beriman.

Sementara itu, bimbingan-bimbingan pimpinan Gereja, dari "Gaudium et Spes", Populorum Progressio dan aneka surat gembala Konferensi Wali Gereja dan Uskup-uskup mendorong orang untuk menjadi garam dunia dan rasul di tengah tempat bekerja. Tatkala umat mau melaksanakan pengarahan menjadi ragi dunia di pabrik atau kantor dan pasar atau DPR itu, hampir habislah waktu untuk juga melayani lingkungan/paroki atau keluarga. Situasi yang hampir menempatkan orang dalam dilemma sulit itu masih dilengkapi dengan hadirnya begitu banyak arus rohani yang juga menawarkan penghayatan iman, yang menambah peluang untuk menjadi orang katolik dengan warna yang beraneka warna. Apalagi, Keuskupan Agung Jakarta dilayani oleh puluhan tarekat yang menggairahkan umat dengan spiritualitas yang juga memikat. Sangat dapat difahami kalau umat beriman mengelompok selaras dengan bisikan Roh atau sesuai dengan minat atau segaris dengan bimbingan pastoral setempat atau disemangati oleh edipteman, keluarga dan handai taulan saja. Banyak yang ingin menjadi orang katolik sebaik mungkin, tanpa melalaikan undangan pertemuan lingkungan, wilayah dan paroki. Namun nyatanya waktu, tenaga dan perhatian kerap kali memang terbatas.

Secara positif dapat dikatakan bahwa aneka kategori kegiatan dan pelbagai fungsi dalam masyarakat serta beranekaragamnya arus kerohanian itu memperkaya cara berimannya umat. Oleh sebab itu, perlulah diberikan pendampingan, agar di samping pelayanan teritorial biasa, umat sungguh terbantu untuk menjadi ragi dan garam dunia. Sebab, tidak mustahil juga, bahwa orang hanya mau menghindari lingkungan atau hanya mau asal kumpul dengan teman se-hobi dsb.

Ketika Uskup Agung Jakarta akhirnya memutuskan untuk menunjuk seorang Pembantu Uskup dalam melayani pastoral kategorial itu, dua arah pastoral ditegaskan: yaitu

1). bahwa dalam kelompok-kelompok kategorial itu iman kepada Yesus Kristus semakin dihayati dan diamalkan: maka paguyuban umat itu didorong untuk semakin menjadi basis bagi hidup beriman mereka;

2). Bahwa kelompok-kelompok itu tidak menjadi tertutup, melainkan, baik segugus maupun segenap keluarga kelompok kategorialnya, membuka diri pada kelompok yang lebih luas, dalam Gereja maupun ke seluruh masyarakatnya.

Itulah yang menjadi arah dasar ketika dua belas orang pertama di awal tahun 1990an menyediakan diri bekerjasama dengan Vicarius Episcopalis (Wakil atau Pembantu Uskup) untuk Pelayanan Kategorial (disingkat VIKEP KATEGORIAL), yang kemudian juga adang disingkat menjadi PEMUKAT (PEMbantu Uskup untuk pelayanan KATegorial).

Cara kerja yang dipilih untuk melayani arah dasar pastoral itu adalah:

1). Membangun kontak dengan perseorangan atau kelompok yang ingin menyatu sebagai paguyuban umat beriman, melintasi batas teritorial;

2). Menyediakan sarana-sarana pendampingan pastoral, tanpa menjadi ‘super-organisasi’ di atas segala kelompok. Maka hanya menyediakan forum pertemuan orang dan/atau kelompok kategorial dengan maksud seperti dikatakan di atas.

Dari tahun ke tahun, bentuknya berubah-ubah selaras dengan situasi dan kondisi. Maka dari itu, dalam pelayanan PERTEMUAN MITRA KATEGORIAL (PEMIKAT) ini setidak ada ‘keanggautaan’. Kepada setiap orang atau kelompok hanya disediakan kemungkinan untuk memanfaatkan pertemuan agar di satu sisi imannya menguat sebagai kelompok kecil (basic christian community) di lain sisi membongkar eksklusivisme untuk membuka cakrawala ke Gereja Luas dan Masyarakat Terbuka.

Kelompok-kelompok yang namanya ada dalam lembaran-lembaran ini, adalah mereka yang saat ini sering kali menyediakan diri untuk berkontak dan dikontak. Tidak mustahil bahwa mereka mempunyai relasi dengan kelompok atau persekutuan lain yang tidak ditulis nama dan bentuknya dalam lembar-lembar ini.

Panitya Tetap (PANTAP) yang melayani kontak-kontak ini hanyalah menyediakan forum perjumpaan. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua yang pernah dan masih serta akan menjadi anggauta PANTAP maupun yang rela mengambil bagian dalam forum dengan aneka cara.

Biarlah Roh Tuhan yang membimbing kita semua untuk siap siaga dipakai jadi rasulnya, sampai ke ‘ujung dunia’ agar kita semua semakin menjadi murid Kristus dan saksiNya dengan cara yang dikehendakiNya. Selamat Datang, Selamat Jalan dalam Perjalanan Bersama.

Sebab buanyaknya kelompok kategorial mungkin membuat orang takut. Bisa saja. Karena bisa juga hal itu membuat hiruk pikuk. Namun di tengahnya kita boleh yakin, Tuhan mau mengulurkan tangan: Dia hadir. "Jangan takut! Ini Aku". (Mrk 6:50)

(B.S.Mardiatmadja, SJ)