|
1
Gereja Katolik tidak hanya sejak Konsili Vatikan II, tetapi dengan
Unitatis Redintegratio dan Nostra Aetate menjunjung tinggi gerakan
ekumene dan dialog antar umat pelbagai agama. Itulah pula antara lain
sebabnya saya ditugasi untuk dalam program STF semester 2 mata kuliah,
yaitu komunikasi dan ekumene/dialog antar umat beberapa agama. Sementara
itu, saya juga masih meneruskan tugas beberapa tahun mengajar di STT
Proklamasi, tempat calon pendeta dan aktivis Majelis dari pelbagai
Gereja Protestan anggota PGI belajar.
2
Ekumene
adalah gerakan yang bertolak dari sikap positif terhadap gejala semakin
banyaknya pertemuan pelbagai agama: bukan atas dasar proselitisme (mau
menjaring orang-orang dari Gereja atau agama lain) atau indifferentisme
(semua Gereja/agama sama saja) atau liberalisme pastoral (berpastoral
secara tanpa patokan) atau bahkan 'sensasionalisme' (mencari sensasi
untuk mendatangkan masa yang tidak persis menyadari intisari mengenai
apa yang terjadi).
3
Ekumene mengandaikan hormat kepada Gereja dan agama
lain; termasuk menghormati pelbagai masalah yang terbatas dalam Gereja
atau agama lain. Dalam kerangka ini perlu kita memperhatikan bahwa 90%
dari umat Protestan merupakan bagian dari Gereja-Gereja yang tergabung
dalam PGI (mis. HKBP dan beberapa rekannya yang mencakup lebih dari
separoh PGI beraliran Lutheran, GPIB dan GKI/GKJ dengan beberapa
partnernya seperti GMIM, GKPasundan dsb. yang merupakan kelompok besar
kedua dalam PGI dan lebih berwarna Kalvinis, beberapa kelompok dari
tradisi Orthodoks dan Anglikan). Kebanyakan rakyat jelata ada dalam
naungan Gereja-Gereja tersebut di atas. Kelompok-kelompok lain (yang
lebih elitis dan terdiri dari orang lapisan atas) kelihatan banyak,
namun sesungguhnya kecil serta berasal dari sekte-sekte baru di USA, dan
tidak masuk dalam PGI (mis. Kebanyakan jalur Bethel, Bethanie, Babtis,
Adventis, sebagian Pentakosta, yang masih terbagi-bagi dalam sejumlah
penyatuan lain). Atas dasar ini, maka KWI dan KAJ mendahulukan
komunikasi dengan keluarga yang tergabung dalam PGI (lalu kita tidak
terlibat dalam fragmentasi yang sedang diolah PGI). Umat tidak
dianjurkan untuk membiasakan diri atau dibiasakan memulai gerakan
ekumene dengan sekte-sekte.
4
Dalam pada itu paham ekumene dalam Gereja Katolik
tidak sepenuhnya sama dengan paham ekumene dalam banyak Gereja
Protestan. Paham ekumene Gereja Katolik telah berkembang sejak abad
pertama dan kedua, ketika pelbagai penyimpangan ajaran muncul. Oleh
sebab itu, Oikomenik erat berkaitan dengan iman Gereja yang universal
dan diakui di mana-mana serta berhubungan dengan pewarisan ajaran serta
tradisi Gereja (lisan, hidup dan liturgis maupun personal), sejak abad
pertama/kedua sampai sekarang. Dalam pada itu, ekumene dalam kebanyakan
Gereja Protestan erat berkaitan dengan pemisahan Gereja tahun
1054 (abad ke-11) dan 1517 (abad ke-16) serta tumbuh pesat sejak abad
ke-19 dan 20, dengan pelbagai konferensi maupun praktik kerja sama
gereja-gereja; mulai dari Gereja yang dari tradisi Lutheran dan Kalvinis;
kemudian berkembang dengan rekan-rekan Anglikan dan Orthodoks; dan
baru kemudian perlahan-lahan menyentuh beberapa Gereja 'baru' yang
berasal dari Amerika Serikat (yang banyak dari mereka belum menjadi
bagian dari ekumene yang terpadu alam PGI dan WCC di Jenewa). Gereja
Katolik sudah lama melaksanakan pembicaraan teologis bilateral
dengan keluarga Lutheran, keluarga Reform, keluarga Anglikan,
dan keluarga Orthodoks. Pembicaraan-pembicaraan itu lebih dilakukan
secara 'bilateral' karena perbedaan paham yang perlu didamaikan
antara Gereja Katolik dengan pelbagai Gereja itu tidak sama.
Oleh sebab itu, diperlukan hormat dan langkah hati-hati sekali,
supaya perlahan-lahan terjadi ekumene yang mendalam, bukan
sekedar pertemuan sensasional.
5
Ekumene dan dialog mencakup beberapa alternatif:
|
a. |
Ekumene Hidup yaitu dalam
bentuk hidup bersama dalam
toleransi dan kerukunan di kampung dengan teman-teman
protestan atau dalam proyek banjir maupun pembagian sembako. |
|
b. |
Ekumene Karya: mendirikan
karya-karya pelayanan bersama
seperti sekolah SD, rumah sakit dan lain-lain. |
|
c. |
Ekumene
Teologis : berkaitan dengan perjumpaan tingkat ajaran (misal Rm.
Magnis sering berdiskusi pada tingkat ini : saya sendiri mengajar di
Seminari Protestan dan sering seminar teologis dengan kawan
Protestan atau agama lain) |
|
d. |
Ekumene Liturgis: yang mencakup doa
dan ini dapat dibagi 2
yaitu, pertama, insidental seperti kalau Uskup berdoa bersama
kawan PGI/MUl waktu peristiwa pembakaran 1998. Yang kedua,
secara tetap mengadakan liturgi bersama |
KWI (dan disetujui PGI) mengambil kebijakan bahwa ekumene jenis a
dan
b selalu dapat dianjurkan, dan seyogyanya dalam kesatuan dengan umat
Muslim, Hindu dan Budhis. Mengapa? Karena ekumene pola ini memperkaya
hidup bersama yang temyata sudah dilaksanakan oleh rakyat.
Bentuk-bentuknya dapat berupa hidup bertetangga yang penuh toleransi dan lebih jauh lagi 'saling menghargai serta saling menghibur'. Ekumene
Karya berusaha menggairahkan iklim menciptakan lapangan kerja maupun
kerja gotong royong yang meningkatkan hidup bersama. Ekumene Teologis
mengandaikan pengetahuan teologis yang mampu membeda-bedakan
pandangan-pandangan teologis dari pelbagai Gereja. Untuk ini, tidak
setiap anggota jemaat dan paroki mempunyai bekal dan juga tidak perlu.
Sebab teologi merupakan ilmu, yang tidak harus dikuasai oleh setiap
anggota Gereja. Cukuplah kalau para anggota jemaat hidup dan berkarya
sesuai dengan keyakinan imannya seberapapun paham teologisnya. Namun
untuk hidup dan perkembangan seluruh Gereja sangat dipedukan studi mendalam:apakah latar
belakang pendirian-pendirian teologis itu dan bagaimana sejarah
berkembangnya suatu pandangan teologis tertentu. Hal ini merupakan
konteks yang penting untuk menggali keyakinan iman yang bersumber dari
Kitab Suci. Sebab Kitab Suci adalah bagian dari suatu tradisi iman yang
hanya memiliki makna penuh dalam kesatuan dengan Tradisi lisan dan
Tradisi hidup (bdk. Yoh 21:25). Oleh sebab itu dapat dimengerti kalau
tidak semua umat perlu memiliki pengetahuan teologis yang paripurna;
namun pengetahuan paripurna dalam bidang teologi diperlukan oleh mereka
yang membuka langkah mengadakan ekumene teologi. Bila tidak, maka
ekumene teologi menjadi semu saja. Itulah sebabnya mengapa ekumene
teologi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang secara teologis
memiliki kualifikasi selaras dengan penilaian pimpinan gerejawi; maka
baik PGI maupun KWI tidak menganjurkan hal ini dilakukan secara massal.
Kebijakan ini diambil bukan karena curiga melainkan justru karena
menghormati kewibawaan keluarga Kristen dan menjaga khasanah Katolik
dalam Ajaran Iman. Pengajaran atau 'Penyampaian Firman' dari Pendeta
atau Pewarta Protestan sudah masuk dalam lingkup pengertian ini.
Ekumene Liturgis jenis 5.d) mengandung masalah yang
sesungguhnya mendalam. Sebab bagi kita dalam ekumene liturgis
termaktub 'ungkapan iman, yang bila terjadi secara resmi terwujud
dalam perayaan-perayaan Sakramen'. Keresmian sakramen
terungkap dalam pengakuan seluruh Gereja Universal mengenai
cara, isi dan pemimpinnya. Dalam liturgi resmi keseluruhan Gereja
terwujud. Pendirian mengenai keresmian ini diakui oleh semua
Gereja; dan karena itu perlu dihargai. Maka kita tidak masuk ke
dalam Liturgi Gereja lain yang resmi, bukan karena merendahkan
melainkan memang demi menghormati mereka dan mengapa kita
menjunjung tinggi Liturgi kita. Oleh sebab itu, harus sangat disaring
dan dilakukan hanya oleh orang-orang dan dalam kesempatan yang
terpilih. Masih terbuka kemungkinan untuk pelbagai bentuk doa
bersama, yang dilakukan oleh awam dari pelbagai Gereja, misalnya
yang terjadi di sementara kantor. Namun pedu diingat bahwa dalam
beberapa model ibadat terjadilah juga pewartaan juga kalau
namanya 'sharing' atau 'kesaksian'); hal ini perlu ditelaah secara cermat dalam terang
ekumene pola 5 c. Sering kali munculnya ajaran yang tidak sesuai dengan
ajaran Gereja kita dimulai dengan sejumlah kalimat yang mendua atau
dapat ditafsirkan dengan beraneka cara. Kalimat seperti itu perlu
dicermati bukan untuk membuat kita curiga pada maksud baik pribadi orang
yang mengucapkannya, melainkan pedu dicermati, karena sering kali tidak
dapat dikenali oleh mereka yang tidak terlatih mengkaji
rumusan-rumusan dengan aneka nuansanya, pada hal kerap kali membawa
konsekuensi penting dalam pemahaman kita mengenai bakti kepada Hati
Yesus atau kepada Maria atau malah sampai kepada kesetiaan kepada Sri
Paus, Hirarki, Sakramen-sakramen dan bahkan kepercayaan pada Tuhan Yesus
Kristus sendiri.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas, tidaklah tepat kalau
pimpinan Gereja Katolik (dalam pelbagai lapisannya) mendukung suatu
Persekutuan Doa Ekumene yang rutin (entah mingguan, bulanan, dwibulanan
atau triwulanan) dan pengajaran dari Pendeta Protestan. Dalam pada itu
Pimpinan Gereja Katolik hendaknya menganjurkan ekumene hidup dan
ekumene karya. Kedua jenis ekumene itu juga menciptakan dorongan pada
umat untuk lebih berkomunikasi dengan orang yang beragama non nasrani,
dan hal itu menjadikan ekumene dan dialog lebih merakyat. Persekutuan
doa yang disebut Diakonia yang mengembangkan ekumene hidup dan ekumene
karya. Suatu evaluasi dan refleksi mendalam yang didampingi sesuai
dengan pendirian pimpinan Gereja, hendaklah terus-menerus dilakukan
demi hormat kita kepada rekan-rekan kita Gereja lain maupun cinta pada
Gereja Katolik.
6
Ekumene dan Dialog adalah cita-cita kita bersama. Untuk itu kita
perlu melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan mengukur
kekuatan kita masing-masing. Yang mampu ekumene/dialog hidup,
hendaknya melakukan itu. Yang mampu ekumene jenis
lain, juga dapat memilih komunikasi serius satu sama lain dan dengan
pimpinan Gereja sangat penting. Namun harus jujur dan sungguh-sungguh.
|