| |
Tini naik kelas.
Tetapi angkanya tidak begitu baik. Ia menyesal. Tetapi apa boleh buat.
Sekarang ia masuk kelas 3. Sebentar lagi harus memilih: mau ke mana?
Tono, ayah Tini memperhatikan Tini, mau membantu; tetapi tidak dapat Ia
sendiri sedang stres. Tina, isterinya minta cerai. Mengapa? Sebab Tina
tidak dapat merima bahwa Tono sudah setahun tidak bekerja dan juga tidak
pernah menyentuh Tina lagi.
Jarang sekali ada keluarga yang seratus persen mirip Tini- Tono- Tina.
Namun hampir setiap keluarga mempunyai masalah pokok serupa,yaitu: bahwa
masing-masing anggota keluarga bermasalah. Sehingga satu sama lain sulit
saling membantu.
Situasi seperti itu kena pada banyak keluarga: entah mereka sering
datang dalam pertemuan Lingkungan atau aktif di paroki, entah mereka
lebih sibuk di kantor atau di pabrik sehingga sulit menemukan waktu dan
kesempatan untuk hadir dalam pertemuan Lingkungan. Dalam Keuskupan kita,
dan dalam Keuskupan manapun, hidup Gereja hampir berhimpitan sama dengan
hidup keluarga-keluarga kita. Dan hidup berkeluarga berkisar pada
tempat-tempat konkret tertentu: kamar makan, ruang keluarga, kamar
belajar, kamar mandi, toilet, gudang kamar tidur, garasi, kendaraan dan
sesekali juga gedung paroki atau gedung gereja. Lewat ruang-ruang itulah
masing-masing keluarga ikut Yesus. Maka pertanyaan pada judul dapat
dijawab sederhana saja: Ikut Yesus dari kamar mandi ke kamar tidur di
kampung Cempaka; atau ikut dari gedung ke gedung gereja di jalan becek.
Itulah "ikut Yesus seadanyan, Artinya ikut Yesus dalam ke-"ada"-an kita
sehari-hari. Kita jadi murid Yesus seperti para rasul: sebagai keluarga.
Untuk melaksanakannya diperlukan sedikit pendalaman. Istilah "sebagai
keluarga" dapat diselewengkan artinya kalau dipahami "seperti perusahaan
keluarga" ' artinya pelbagai hal diselesaikan tidak secara profesional
atau tidak memakai aturan bersama -sama sekali, melainkan dengan "cara
seenaknya". Itu bukan yang saya maksudkan. "Sebagai keluarga" juga tidak
dimaksudkan berarti bahwa ada yang mau tidak mau jadi bapak dan semua
katanya dituruti". Itu cara paternalistik. Istilah "sebagai keluarga"
ingin dipahami sebagai "bukan seperti relasi perang atau kompetisi
polilik atau persaingan bebas perusahaan krupuk", melainkan sebagai
orang-orang yang dewasa berrelasi secara bettanggung jawab dan
bertanggung jawab secara relasional". Ucapan berelasi secara bertanggung
jawab",artinya kontak kita dalam persekutuan orang beriman dengan
menghargai kemandirian, karena menghargai satu sama lain. Sikap tersebut
menyebabkan persekutuan kita mencerminkan sikap dasar bahwa kita saling
terpikat satu sama lain: relasi atas dasar minat dan cinta (bukan karena
harus dan saling memaafkan atau saling menyalahgunakan). Ungkapan "bertanggung
jawab secara relasional", mau mengatakan bahwa tidak sendiri-sendiri
melaksanakan tanggung jawab kita, kita memang mandiri,
karena tidak ikut-ikutan
dalam beriman; namun tanggung jawab
sebagai persekutuan iman
itu,
karena kita mengakui bahwa tanpa rekan di kiri dan kanan kita, sesungguhnya
kita tidak mungkin memberi jawab memadai bila dimintai evaluasi pada akhir
hidup kita.
Sikap seperti itu memang terlaksana dalam perusahaan dan
tempat kita berorganisasi sebagai rekan seprofesi. Namun secara
istimewa hal itu menjadi ciri khas hidup berkeluarga. Dan hidup
berprofesi kita juga demi kesejahteraan keluarga- keluarga kita pula.
Maka profesi dan organisasi profesi serta persekutuan kategorial kita
harus sedalam- dalarnnya profesional dan objektif, namun sekaligus juga
bersifat "keluarga" sebagaimana tentera didepan. Hanya kalau demikian,
maka keluarga dan masing-masing murid Kristus akan tahan menghadapi
pelbagai tantangan dan risiko bahwa memilih Kristus sebagai Junjungannya
dan bergabung dalam Gereja ini. Sifat daya tahan Gereja seperti itu akan
terpancar ke luar sehingga kita bersedia diutus sebagai misionaris (= utusan)
dalam sekolahan, kampung, kantor, pabrik, perkumpulan silat dsb., dengan
segala risiko dan berkatnya. Apa hubungannya semuanya itu dengan iman di
sekitar natal menurut surat Paulus kepada umat di Philippi (2:
1-11), Sang Anak Allah meninggalkan kemuliaan-Nya untuk jadi seperti
manusia. Bagaimana cara yang dipilih-Nya? Masuk jadi anggota keluarga
Maria dan Josef; dari kecil sampai dewasa; di tengah kampung konkret, yaitu
Nasaret, dari tanggal tertentu sampai tanggal tertentu.
Seorang kristiani ingin jadi murid Anak Allah yang
nyata itu. Bagaimana caranya? Baik sebagai anggota keluarga nomal maupun
dengan "semangat keluarga di tengah masyarakat" seperti terpapar di atas.
Sinode kita mau mengajak umat membarui semangat jadi murid Kristus. Maka
kita mau membarui "semangat keluarga" juga. Itulah hidup seadanya dalam
kancah sehari-hari, Begitulah pula yang perlu disuburkan melalui
persekutuan-persekutuan kategorial kita maupun melalui sumbangsih kita
dalam lingkungan teritorial.
SELAMAT MENYONGSONG HARI RAYA ANAK MANUSIA MASUK KE
DALAM KELUARGA KITA: SEADANYA! |