oleh : B.S. Mardiatmadja, SJ

 

 

Pagi itu jalan-jalan masih sepi. Banyak orang tengah dibalut mimpi. Hanya orang-orang yang sungguh didesak oleh keperluan besar atau didorong oleh cinta luar biasa-lah yang mau meninggalkan kehangatan rumah. Beberapa perempuan memang melakukan hal itu. Mereka merasa diwajibkan oleh adat dan dituntut oleh rasa cinta untuk menyelesaikan tugas membaluri jenasah dengan rempah-rempah di makam. Sebab jenasah itu tidak bisa dibiarkan terbaring terus tanpa dirempahi secara. memadai. Maka dalam pikiran mereka tidak ada bayangan alternatif daripada menemukan jenasah Yesus tergolek di makam baru, yang terpaksa ditinggalkan karena 'kemarin' itu hari Sabat Besar yang menyebabkan mereka tidak boleh melakukan 'hal-hal haram'. Tiada antisipasi yang bernada: "mudah-mudahan Ia sudah bangkit". Mereka yakin sekali, "Ia pasti masih menunggu diurapi para perempuan tersayang itu". Bahwa mereka menemukan pintu terbuka dan Yesus sudah bangkit, itu di luar harapan dan pikiran orang-orang itu. Itulah "misteri besar Paskah" yang mengejutkan mereka.

Lalu apa yang dicari kaum profesional dalam Pesta Paskah? Sebab dalam banyak segi, Pesta Paskah, yang dirayakan orang kristiani, itu sulit dimasukkan dalam suatu kategori, pemnikiran kaumn profesional. Paskah tidak mempunyai saksi mata langsung. Itu sulit dipahami oleh ahli hukum yang jaman sekarang dituntut secara profesional dapat membawa saksi mata langsung yang tinggi "credibilitasnya". Paskah berkaitan dengan pendobrakan kepastian ekologis karena menunjukkan bahwa seseorang yang seharusnya sudah busuk karena mati puluhan jam toh ditemui murid-murid-Nya sebagai hidup lagi. Maka sulit dipahami oleh biolog atau ahli medis manapun. Paskah memperternukan orang dengan sejumlah militer yang serba salah: kalau mengatakan apa adanya, ya akan dihukum; kalau menyebarluaskan berita palsu, ya bertentangan dengan suara hati. Maka tidak mudah diterima penguasa militer mana pun. Paskah juga menyulitkan kaum agamawan yang berpegang teguh pada hukum dan kepastian struktur kebenaran agama-agama, karena tidak ada presedennya dalam sejarah keagamaan. Maka tidak gampang disambut banyak ahli agama. Jadi, misteri paskah bertentangan dengan keyakinan profesional dan cara hidup profesional modern?

Bukan di sana jawabanya. Paskah berkaitan dengan beberapa lapisan hidup manusia yang  memang berhubungan dengan  hidup manusia, walau pun jenis  "credibilitas'-nya unik sekali. Dalam paskah terkait kematian di salib seorang Yesus dari Nasaret.  Yesus melakukan banyak hal yang mengagumkan banyak pengikut-Nya dan menjengkelkan banyak lawan-Nya serta sebaliknya. Ia tidak mau mengambil posisi sebagai penyelamat politis bangsa-Nya, yang memang amat merindukan tokoh Messias politis. Lihatlah murid-murid yang lari ke Emmaus. Maka dari itu posisi yang diambil Yesus itu menjengkelkan teman-teman-Nya dan membuat lawan-lawan-Nya terpukau mati langkah. Ia tidak mau membebaskan Diri dari Salib, yang dalam kategori seorang penyamun yang juga tersalib seharusnya dapat dilakukan-Nya dengan gampang. Ia membiarkan Diri dihojat oleh tokoh-tokoh agama waktu itu sehingga credibilitas religiusnya kehilangan landasan bagi orang-orang saleh Yahudi. Namun dengan demikian Ia membangun sifat religius yang baru. Yesus sering membuat mukjizat yang dapat memikat banyak orang sehingga memperoleh-Nya banyak suara di kalangan rakyat jelata. Namun Dia tidak mau mendapat keuntungan pribadi dari mukjizat-mukjizat itu, sebab bagi-Nya yang terpenting adalah bahwa kehendak Bapa-Nya terlaksana.

"Yesus bagi orang yang mengimani-Nya adalah sungguh Allah dan sungguh manusia" begitu catatan Konsili Chalcedon. Ungkapan ini diterima oleh semua Gereja, yang menyebut diri kristiani. Ucapan itu berkait langsung dengan misteri Paskah. Menurut iman kristiani, Paskah adalah saat (kairos) yang menegaskan , bahwa Guru para Rasul ini memang sungguh manusia jempolan yang bersikap bersahabat penuh kesetiaan kepada para murid, dan juga bersatu utuh dengan Allah, Sang Pemberi Hidup, sehingga mengatasi maut yang mengerikan. Tidak cukup kalau Ia hanya disebut sebagai 'pembuat mukjizat', 'penasihat agung', 'sahabat setia kawan', namun jelas bahwa Yesus bukanlah Yahweh karena kepada-Nya Yesus selalu menyebut "Bapa". Antara Yesus dengan Yahweh, Allah yang Mahaagung, terjalin relasi cintakasih yang amat dalam. Antara Yesus dengan para murid, terjadi relasi kasih sayang yang amat mesra juga. Cinta dan kasih sayang itu begitu real dan terasa; walau tidak begitu saja dapat dijelaskan para murid. Ada misteri. Seperti sekian banyak relasi persahabatan dan cinta antara kita, yang pasti ada, namun tidak dapat diterangkan dengan teori cinta psikolog maupun sosiolog, apalagi politolog yang paling besar. Ada asumsi-asumsi hidup yang jelas adanya serta nyata pengaruhnya bagi hidup manusia maupun bagi pelaksanaan hidup profesional kita; walaupun masih penuh misteri bagi penjelasan akademis mana pun. Profesionalisme kita herjumpa dengan keterbatasan manusia namun berdiri di tepi cakrawala tanpa batas misteri Allah yang menjamah hidup kita, Misteri ini memberi harapan, bahwa hidup penuh dengan keterbatasan ini tidak akan berakhir begitu saja waktu maut datang menjemput. Setiap orang yang pernah di tepi batas hidup, akan merasakan hadirnya Sang Misteri ini.

Kematian dan Kebangkitan Yesus menjadi "tanda dan sarana" yang dipergunakan Allah untuk mewahyukan Misteri tersebut. Juga bagi kita kaum profesionals. Atau terutama bagi kita kaum profesional, yang dengan segala yang pernah kita pelajari, malah semakin menyadari, betapa banyak kita tidak tahu. Adanya Misteri, bukan untuk disangsikan, melainkan untuk meneguhkan kita kaum profesionals, yang sering harus mengakui keagungan karya Allah yang tidak juga terjangkau oleh otak kita yang kecil ini. Maka marilah kita menyanyikan bersama:" 0, Tuhanku: bila kuterpesona, menyaksikan Karya-Mu yang besar .... Aku memuji Kebesaran-Mu ... Dan "Alleluia!".