|
Pagi
itu jalan-jalan masih sepi. Banyak orang tengah dibalut mimpi. Hanya
orang-orang yang sungguh didesak oleh keperluan besar atau didorong oleh
cinta luar biasa-lah yang mau meninggalkan kehangatan rumah. Beberapa
perempuan memang melakukan hal itu. Mereka merasa diwajibkan oleh adat
dan dituntut oleh rasa cinta untuk menyelesaikan tugas membaluri jenasah
dengan rempah-rempah di makam. Sebab jenasah itu tidak bisa dibiarkan
terbaring terus tanpa dirempahi secara. memadai. Maka dalam pikiran
mereka tidak ada bayangan alternatif daripada menemukan jenasah Yesus
tergolek di makam baru, yang terpaksa ditinggalkan karena 'kemarin' itu
hari Sabat Besar yang menyebabkan mereka tidak boleh melakukan 'hal-hal
haram'. Tiada antisipasi yang bernada: "mudah-mudahan Ia sudah bangkit".
Mereka yakin sekali, "Ia pasti masih menunggu diurapi para perempuan
tersayang itu". Bahwa mereka menemukan pintu terbuka dan Yesus sudah
bangkit, itu di luar harapan dan pikiran orang-orang itu. Itulah
"misteri besar Paskah" yang mengejutkan mereka.
Lalu apa yang dicari kaum profesional dalam Pesta Paskah? Sebab dalam
banyak segi, Pesta Paskah, yang dirayakan orang kristiani, itu sulit
dimasukkan dalam suatu kategori, pemnikiran kaumn profesional. Paskah
tidak mempunyai saksi mata langsung. Itu sulit dipahami oleh ahli hukum
yang jaman sekarang dituntut secara profesional dapat membawa saksi mata
langsung yang tinggi "credibilitasnya". Paskah berkaitan dengan
pendobrakan kepastian ekologis karena menunjukkan bahwa seseorang yang
seharusnya sudah busuk karena mati puluhan jam toh ditemui
murid-murid-Nya sebagai hidup lagi. Maka sulit dipahami oleh biolog atau
ahli medis manapun. Paskah memperternukan orang dengan sejumlah militer
yang serba salah: kalau mengatakan apa adanya, ya akan dihukum; kalau
menyebarluaskan berita palsu, ya bertentangan dengan suara hati. Maka
tidak mudah diterima penguasa militer mana pun. Paskah juga menyulitkan
kaum agamawan yang berpegang teguh pada hukum dan kepastian struktur
kebenaran agama-agama, karena tidak ada presedennya dalam sejarah
keagamaan. Maka tidak gampang disambut banyak ahli agama. Jadi, misteri
paskah bertentangan dengan keyakinan profesional dan cara hidup
profesional modern?
Bukan di sana jawabanya. Paskah berkaitan dengan beberapa lapisan hidup
manusia yang memang berhubungan dengan hidup manusia, walau
pun jenis "credibilitas'-nya unik sekali. Dalam paskah terkait
kematian di salib seorang Yesus dari Nasaret. Yesus melakukan
banyak hal yang mengagumkan banyak pengikut-Nya dan menjengkelkan banyak
lawan-Nya serta sebaliknya. Ia tidak mau mengambil posisi sebagai
penyelamat politis bangsa-Nya, yang memang amat merindukan tokoh Messias
politis. Lihatlah murid-murid yang lari ke Emmaus. Maka dari itu posisi
yang diambil Yesus itu menjengkelkan teman-teman-Nya dan membuat
lawan-lawan-Nya terpukau mati langkah. Ia tidak mau membebaskan Diri
dari Salib, yang dalam kategori seorang penyamun yang juga tersalib
seharusnya dapat dilakukan-Nya dengan gampang. Ia membiarkan Diri
dihojat oleh tokoh-tokoh agama waktu itu sehingga credibilitas
religiusnya kehilangan landasan bagi orang-orang saleh Yahudi. Namun
dengan demikian Ia membangun sifat religius yang baru. Yesus sering
membuat mukjizat yang dapat memikat banyak orang sehingga memperoleh-Nya
banyak suara di kalangan rakyat jelata. Namun Dia tidak mau mendapat
keuntungan pribadi dari mukjizat-mukjizat itu, sebab bagi-Nya yang
terpenting adalah bahwa kehendak Bapa-Nya terlaksana.
"Yesus bagi orang yang mengimani-Nya adalah sungguh Allah dan sungguh
manusia" begitu catatan Konsili Chalcedon. Ungkapan ini diterima oleh
semua Gereja, yang menyebut diri kristiani. Ucapan itu berkait langsung
dengan misteri Paskah. Menurut iman kristiani, Paskah adalah saat
(kairos) yang menegaskan , bahwa Guru para Rasul ini memang
sungguh manusia jempolan yang bersikap bersahabat penuh kesetiaan
kepada para murid, dan juga bersatu utuh dengan Allah, Sang Pemberi
Hidup, sehingga mengatasi maut yang mengerikan. Tidak cukup kalau Ia
hanya disebut sebagai 'pembuat mukjizat', 'penasihat agung', 'sahabat
setia kawan', namun jelas bahwa Yesus bukanlah Yahweh karena kepada-Nya
Yesus selalu menyebut "Bapa". Antara Yesus dengan Yahweh, Allah yang
Mahaagung, terjalin relasi cintakasih yang amat dalam. Antara Yesus
dengan para murid, terjadi relasi kasih sayang yang amat mesra juga.
Cinta dan kasih sayang itu begitu real dan terasa; walau tidak begitu
saja dapat dijelaskan para murid. Ada misteri. Seperti sekian banyak
relasi persahabatan dan cinta antara kita, yang pasti ada, namun tidak
dapat diterangkan dengan teori cinta psikolog maupun sosiolog, apalagi
politolog yang paling besar. Ada asumsi-asumsi hidup yang jelas adanya
serta nyata pengaruhnya bagi hidup manusia maupun bagi pelaksanaan hidup
profesional kita; walaupun masih penuh misteri bagi penjelasan akademis
mana pun. Profesionalisme kita herjumpa dengan keterbatasan manusia
namun berdiri di tepi cakrawala tanpa batas misteri Allah yang menjamah
hidup kita, Misteri ini memberi harapan, bahwa hidup penuh dengan
keterbatasan ini tidak akan berakhir begitu saja waktu maut datang
menjemput. Setiap orang yang pernah di tepi batas hidup, akan
merasakan hadirnya Sang Misteri ini.
Kematian dan Kebangkitan Yesus menjadi "tanda dan sarana" yang
dipergunakan Allah untuk mewahyukan Misteri tersebut. Juga bagi kita
kaum profesionals. Atau terutama bagi kita kaum profesional, yang dengan
segala yang pernah kita pelajari, malah semakin menyadari, betapa banyak
kita tidak tahu. Adanya Misteri, bukan untuk disangsikan, melainkan
untuk meneguhkan kita kaum profesionals, yang sering harus mengakui
keagungan karya Allah yang tidak juga terjangkau oleh otak kita yang
kecil ini. Maka marilah kita menyanyikan bersama:" 0, Tuhanku: bila
kuterpesona, menyaksikan Karya-Mu yang besar .... Aku memuji
Kebesaran-Mu ... Dan "Alleluia!". |