oleh : B.S. Mardiatmadja . S.J

1. Yubileum telah menjadi perangsang dibangkitkannya semangat berkomunitas bagi banyak kelompok kategorial. Setiap bulan Pemikat mengadakan refleksi man perencanaan pelaksanaan perayaan Yubileum per kelompok. Ternyata secara berangsur-angsur banyak kelompok membentuk komunitas-komunitas. Mereka terkondisikan untuk menciptakan tim-tim kecil yang secara berkala bertemu dan merundingkan program guna mempersiapkan 'acara yubileum'. Pertemuan-pertemuan itu sendiri mendekatkan hati dan pikiran antara orang-orang yang tersangkut dalam persiapan. Pertemuan-pertemuan mereka diisi oleh aneka acara saling kenal dan berdoa bersama. Tidak jarang mereka itu menemukan jalan juga untuk pendalaman Alkitab yang mengembangkan sudut pandangan profesi mereka. Kadang kala terjadi juga diskusi yang lebih teologis mengenai aspek-aspek etis profesi maupun implikasi sosial kedudukan profesional mereka. Pernah terjadi tekad untuk mengembangkan posisi tawar mereka menjadi program yang menguntungkan kelompok lain yang lebih tergantung dari struktur sosial. Misalnya melalui posisi sebagai manajer personalia mereka mencari jalan untuk meningkatkan jaminan sosial bagi pekerja yang lebih lemah kedudukannya di perusahaan. Yang lebih menarik lagi, terjadi perkembangan baru: komunitas komunitas orang yang menyiapkan 'acara yubileum' itu biasanya terdorong untuk membangun pelayanan bagi kelompok lain yang mereka anggap memerlukan uluran tangan mereka. Uluran tangan itu dapat berupa pelayanan karitatif, tetapi juga dapat merupakan pelayanan sosial dalam jangka panjang. Dengan kata lain, dari komunitas yang semula lebih mencari jalan untuk mewujudkan tobat komuniter dalam kerangka komunitas sendiri mereka itu berkembang menjadi komunitas yang membuka budi dan hati bagi komunitas yang lebih luas. Jadi, kelompok-kelompok kategorial yang tumbuh perlahan-lahan itu menjadi basis bagi terciptanya komunitas yang lebih mendalam dan luas.
Dengan demikian, dapat secara jujur dikatakan bahwa banyak kelompok kategorial menjadi komunitas basis.

2. Pelbagai pengalaman di lapangan itu menunjukkan bahwa 'spirit' untuk menjalankan sinode mulai tumbuh. Sebab sinode
bermaksud menumbuhkan kesadaran bahwa daya kekuatan Roh sudah ada dalam komunitas kita dan mendorong kita untuk berdaya upaya agar berkat Roh Kudus itu melimpah pada sesama, supaya hidup mereka berlimpah (bdk. Yoh 10: 10), Dari sisi itu dapatlah kita menafsirkan bahwa ada beberapa lingkungan yang mulai menemukan 'feeling', bagaimana caranya bersinode. Sejumlah kelompok kategorial juga semakin giat dalam menggali pengalaman bersinode. Meskipun demikian hal itu tidak berarti seakan-akan tidak ada masalah. Sebab peserta komunitas tidak semua sama taraf kesadarannya dan tidak semua komunitas memiliki intensitas beriman di setiap saat. Tidak jarang mereka itu bertemu secara rutin saja dan kurang mendalam. Bahkan dapat terjadi bahwa pertemuan pun tidak terlaksana secara setia. Dari sisi itu dapat dikatakan bahwa rupanya jalan sinode KAJ terasa masih tersendat-sendat.

3. Apalagi, tidak sedikit pastor di lapangan maupun umat sering terdengar menanti-nantikan 'petunjuk' dari atasan, seakan-akan dinamika harus dicari dari luar komunitas. Mungkin kebiasaan itu terjadi karena kebiasaan lama "untuk bertindak hanya karena petunjuk dari pimpinan tertinggi". Padahal sekarang ini kita bermaksud agar sinode tidak menjadi 'drop-drop-an' dari Panitia Pusat. Kita mau bahwa sinode tidak terdiri dari ratusan rapat (besar atau kecil). Kita ingin bahwa umat merasakan, betapa Roh Kudus berhembus di tengah lingkungan atau kelompok kecil. Dari lain pihak, mungkin juga "permintaan petunjuk" itu dapat ditafsirkan sebagai ungkapan kepercayaan umat jelata pada pimpinan. Bisa jadi, bahwa permintaan itu memang merupakan indikasi, bahwa umat sungguh tidak tahu, apa yang harus dilakukan. Kalau demikian, mungkin sekali perlu dicari komunikasi yang lebih hidup antara pelbagai lapisan ber sinode di KAJ sedemikian sehingga kebutuhan umat terpenuhi, namun umat tidak perlu menjadi tergantung dari 'petunjuk atasan'.

4. Entah sedikit entah banyak, nyatanya dari pengalaman persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut beryubileum dapatlah diperoleh kesan umum, bahwa di kalangan umat, buah Daya-kekuatan Tuhan sudah tampak. Sebenarnya tidak diperlukan terlalu
banyak usaha "memberdayakan umat". Sering kali yang lebih dibutuhkan umat adalah peneguhan atas beberapa inisiatif yang sedikit atau banyak sudah bertaburan di kalangan umat. Salah satu dari bentuk peneguhan adalah "menyambut baik permintaan umat", dengan bentuk atau cara tanggapan yang menolong kemandirian umat juga. Dalam arti itu, kita perlu berhati hati terhadap usaha untuk 'menciptakan ahli-ahli atau pakar atau kader dalam memberdayakan umat", seakan-akan si pakar atau kader duduk di kursi guru atau pedagang proses berkomunitas sedangkan komunitas tinggal memetik atau membeli kursusnya saja.

5. Langkah-langkah pertama dalam Sinode Pertama KAJ dapat dijadikan bahan perbandingan. Ketika itu, pada tahun 1989 Panitia sadar, bahwa umat akan tergoda untuk meminta petunjuk 'dari atas'; padahal maksud sinode waktu itu pun justru untuk menemukan dinamika umat dan daya-daya yang sudah ada dalam umat sehingga umat dapat dibantu untuk lebih berkembang. Maka Panitia waktu itu mengedarkan sejumlah pertanyaan untuk membantu umat mengadakan refleksi. Dalam refleksi itu terjadilah komunikasi antara umat satu dengan yang lain; dengan begitu sesungguhnya sudah terjadi sinode-sinode. Dalam waktu beberapa bulan sesudah pemakluman sinode ada ribuan surat dari umat diserahkan kepada tim sinode; hal itu sebenamya merupakan indikasi bahwa puluhan ribu umat telah berkontak satu sama lain. Jadi sinode berjalan di basis umat.

6. Jadi sambutan atas aneka harapan umat pada waktu itu dinilai sebagai sejumlah pertanyaan atau tawaran alternatif-alternatif kerangka analisis, agar umat dapat memilih sendiri dan menemukan sendiri pelbagai daya yang ada di tengah umat. Tawaran-tawaran itu disediakan bukan untuk mendikte atau menyeragamkan (karena ada alternatif-alternatif kerangka analisis). Tawaran itu lebih merupakan titik awal guna merangsang inisiatif dan perkembangan kesadaran umat lebih lanjut. Sebab umatlah yang harus berpikir dan memberi jawab atas masalah yang ada di lapangan. Saya yakin, warnasari umat akan disuburkan oleh Roh Kudus menjadi taman sari dalam Gereja dalam menganalisis situasi dan mencoba membicarakan arah jawabnya.

7. Tawaran awal dapat berkaitan dengan matra koinonia Gereja, matra diakonianya', matra kerugma" dan matra leiturgia' Gereja; seluruhnya demi martyria kita.

8. Berikut ini ada beberapa tawaran refleksi mengenai matra koinonia: Kita tahu bahwa kita dipanggil untuk beriman bersama saudara dan membangun persaudaraan sejati (bdk. Kis 2: 41 47). Apakah Anda sudah ikut menghidupkan lingkungan? Dalam hal apa saja Anda sudah terlibat di lingkungan: doa bersama-kah, mengunjungi tetangga sakit, menyambangi orang yang kematian saudara, menghadiri janda miskin yang mengawinkan anaknya, menjemput tetangga miskin yang sulit ke Gereja, menjadi pengumpul kolekte, menjadi seksi keamanan, atau menjadi tim kaderisasi dst. Apakah lingkungan Anda menjadi basis keterlibatan Anda di wilayah atau paroki atau keuskupan dan menjadi basis peran serta Anda di kampung dengan orang beragarna lain; ataukah lingkungan hanya sekedar ada karena dipaksa oleh kenyataan bahwa Anda hidup berdekatan dengan tetangga? Andaikata Anda sulit aktif di lingkungan (mengapa?): apakah Anda ikut suatu paguyuban se-profesi di tempat kerja Anda atau persekutuan umat yang kerja di gedung yang sama; apa sajakah bentuk-bentuk keakraban Anda: sekedar doa bersama ataukah ada aksi sosial atau diskusi soal iman atau diskusi soal ekonomi dan politik ataukah diskusi seni dst? Apakah paguyuban kategorial Anda menjadi basis Anda untuk ikut memperbaiki kondisi lingkungan kerja Anda agar lebih manusiawi? Apa bentuk upaya itu? Apakah paguyuban profesional Anda menjadi basis terciptanya tradisi baru atau hukum baru atau aturan jaminan sosial baru di kalangan teman-teman se-profesi? Apakah selain itu Anda juga rela membantu Seksi di Wilayah atau di Paroki atau dalam Paguyuban Kategorial? Mengapa? Apa yang kira-kira diharapkan oleh Tuhan dari Anda? Kisah iman mana dalam Kitab Suci yang sering terngiang di telinga Anda waktu datang dalam perternuan lingkungan atau kelompok kategorial? Adakah doa yang menjadi ungkapan utama persekutuan Anda? Apakah lingkungan atau kelompok kategorial Anda membangun kontak dengan orang beragarna lain? Apa saja bentuknya? Tetapkah atau hanya berkala atau amat jarang? Apa buah yang diperoleh Anda atau partner Anda dalam kegiatan itu? Rencana berikutnya apa?

9. Berikut ini ada tawaran beberapa bahan refleksi untuk matra diakonia: Kita tahu bahwa iman kepada Tuhan perlu diwujudkan dalam keterlibatan kita dengan saudara-saudara kita yang kecil dan tersisih (Mat 25: 30-46). Sejauh manakah Anda terlibat dalam aksi-aksi sosial? Di lingkungan teritorial ataukah di kelompok profesional Anda? Apakah Anda ikut meningkatkan kesejahteraan atau kesehatan tetanga atau teman sepekerjaan Anda? Apakah Anda ikut mengusahakan agar tetangga atau teman seprofesi Anda diperlakukan adil dan menclapat tambahan nafkah? Apakah Anda secara kritis ikut aktif dalam rembug-karya di perusahaan atau pabrik Anda? Sejauh manakah Anda ikut memikirkan UU baru atau perda yang mempengaruhi nasib buruh atau pekerja di daerah Anda? Apakah lingkungan teritorial Anda peduli pada nasib anggota. lingkungan yang di-PHK atau digusur rumahnya? Waktu Anda merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas sendiri atau bersama orang lain, apakah Anda merasa bahagia dalam iman Anda atau risau? Apakah Anda bangga bahwa menjadi murid Yesus Kristus yang dekat dengan orang kecil, orang sakit dan orang terpinggirkan?


10. Berikut ini ada tawaran beberapa bahan refleksi untuk matra leiturgia: Kita tahu bahwa paguyuban kita sebagai orang beriman perlu juga mengungkapkan bakti kepada Tuhan dalam aneka doa pribadi maupun bersama (lih juga Kis 2: 41-47). Doa doa macam apakah yang sering Anda sampaikan pada Tuhan: doa permohonankah? Doa pujiankah? Doa penyembahankah? Doa syukurkah? Doa lain? Apakah Anda sering berdoa di kapel atau Gereja atau di tempat doa khusus? Bagaimana pengalaman Anda dalam doa di Misa atau Perayaan Ekaristi? Apakah Anda sering merayakan Sakramen Tobat atau pengakuan dosa? Apakah Anda mengajari anak atau adik atau teman Anda untuk berdoa? Anda sering menghabiskan waktu lama sehari untuk doa pribadi atau membaca Alkitab? Apakah sesekali Anda mengunjungi Sakramen Mahakudus di Kapel atau Gereja atau melakukan tuguran? Apakah Anda memakai waktu juga untuk berdoa bersama dengan keluarga atau dengan tetangga atau dengan teman se-lingkungan atau dengan teman se-mudika atau teman sekelompok kategorial? Apakah doa Anda mendorong untuk berbuat baik kepada sesama? Dalam hal apa? Sudah terjadi? Jarang? Apa rencana Anda dalam hal itu?

11. Berikut ini ada tawaran beberapa bahan refleksi untuk matra kerugma: Sebagai manusia berpikiran, kadang kala kita harus memikirkan juga artinya beriman. Tidak jarang kita harus menyelesaikan beberapa pertanyaan mengenai ajaran iman kita. Surat Paulus kepada orang di Roma dan Korintus serta pelbagai surat lain menjelaskan beberapa soal dalam ajaran iman. Demikian pula ajaran para. Bapa gereja dan Konsili, termasuk Konsili Vatikan II. Apakah Anda masih sering membaca buku untuk memperdalam pengetahuan Anda tentang iman; ataukah semua itu berhenti setelah Anda baptis atau menerima Krisma? Apakah Anda sering membaca Alkitab? Apakah Anda masih ingat homili atau kotbah di Gereja sebulan atau seminggu yang lalu? Mengapa? Bahan kotbah apa yang paling menyentuh Anda: Apakah Anda berlangganan majalah katolik? Apakah Anda sering menikmati acara Mimbar Agama di radio atau televisi? Apakah Anda sering menonton film yang bernada pengajaran agama? Apakah Anda sering ke Gereja lain? Apakah Anda sering berdiskusi mengenai masalah iman dengan teman di lingkungan atau kelompok kategorial? Apakah Anda menyempatkan diri untuk ikut kursus pendalaman iman? Jadi, apakah Anda kenal, siapakah Allah itu? Dan Yesus Kristus? Siapakah Roh Kudus itu? Apakah rencana Anda untuk memperdalarn pengetahuan iman Anda?

12. Anda dipanggil menjadi saksi Kristus. Itu panggilan mulia. Namun di sana ada juga tanggungjawab yang luhur. Sinode dapat membantu kita untuk ingat, bahwa kita dipanggil bersama. Maka sinode ini hendaknya membawa kita pada pengalaman iman yang mendalam dan bersama saudara seiman. Untuk itu, pantaslah kita lebih banyak berdoa bersama; juga untuk perjalanan sinode kita. Mungkin berguna kalau sesekali dalam persekutuan Anda yang terkecil (lingkungan atau kelompok kategorial) diadakan rekoleksi sehari atau retret tiga hari. Apa isinya? Bersama meninjau kembali: bagaimana hidup kita sebagai orang beriman dan tetanga atau rekan sekerja. Dapat saja kita berbagi pengalaman pahit maupun manis dalam hal itu (istilahnya 'sharing'). Mungkin ada seseorang yang sedikit memberi pendalaman dari Alkitab atau dari Ajaran Konsili. Lalu merundingkan bersama: bagaimana masing-masing atau kelompok Anda dapat lebih memenuhi panggilan sebagai Saksi Kristus. Semoga Tuhan memberkati Anda. Berikut ini disampaikan suatu percobaan Berdoa bagi Sinode.

13. Allah, yang mengasihi kami bagaikan bapa dan menyayangi kami seperti seorang ibu, kami bersyukur bahwa Engkau memberi hidup dan meletakkan kami dalam lingkungan, paroki dan keuskupan ini. Engkau menyelenggarakan hidup kami melalui pelayanan saudara-saudara: lewat setiap saudara, para petugas seksi, ketua lingkungan dan wilayah, anggota Dewan Paroki, para pastor, para biarawan/wati, para awam yang selibat bagi Gereja-Mu dan dalam pengabdian Uskup kami. Kami bersyukur untuk semua tetanga, para pengurus RT/RW dan Kelurahan serta negara kami. Terima kasih untuk sernua warga dari segala aliran dan agama, yang hidup bersama kami. Selain itu kami bersyukur juga untuk pekerjaan yang memberi nafkah kepada kami serta profesi yang memungkinkan kami mengembangkan kemampuan atau ketrampilan kami. Terimakasih bahwa kami boleh bersama mengembangkan keahlian dan sering kali juga bersama memperjuangkan nasib kami. Kami tidak melupakan para pelayan negara dalam aneka lapisan, yang membantu kami untuk membangun persaudaraan sebangsa dan setanah air. Limpahkanlah berkat-Mu supaya kami dapat berjalan bersama membangun persaudaraan di lingkungan hidup maupun dalam lingkungan pekerjaan kami. Kami percaya bahwa berkat-Mu tetap Engkau limpahkan walaupun kami tahu, bahwa kami harus meminta maaf akan kelalaian kami yang acuh tak acuh pada hidup bertetangga baik atau mengabaikan nasib saudara kami yang kurang beruntung atau pura-pura tidak melihat teman yang tergusur dalam hidup atau mengalami musibah. Kami sungguh memohon ampun apabila kami secara sengaja telah ikut menyebabkan malapetaka bagi saudara kami sebangsa: karena kata, perbuatan atau kelalaian kami. Curahkanlah Roh Kudus-Mu, agar seperti Anak-Mu, Yesus Kristus, kami memiliki 'spirit' untuk berani memberikan diri kami guna berjalan bersama dengan semua orang di lingkungan tempat tinggal kami maupun lingkungan kerja kami; dalam Gereja kami maupun dengan  semua saudara dari aliran atau agama mana pun. Sebab kami percaya, bahwa Engkau memanggil kami menjadi satu keluarga Allah, merupakan tanda dan sarana hadirnya Kerajaan Allah, Kerajaan Cintakasih dan Keadilan, Kerajaan Kedamaian dan Keselamatan. Amin.


Catatan :

1.

Kita tahu bahwa dalam Alkitab Roh Kudus kerap kali disebut dengan istilah "Daya" atau "Kekuatan Allah".

2.

Koinonia = persekutuan. Hal ini berkaitan dengan perekat-perekat hidup umat, baik dengan saudara se-Gereja, saudara dari Gereja lain dan saudara dari agama lain; bahkan dengan orang yang bersikap skeptis terhadap, agama dan Tuhan. Ini dapat berhubungan dengan organisasinya, dapat pula dengan organismenya maupun dengan aneka pemikiran mengenai alternatif persekutuan.

3.

Diakonia = pengabdian; ini berkaitan dengan semua usaha untuk membantu sesama agar hidup umat secara manusiawi lebih sejahtera. Maka dapat menyangkut ekonomi, keamanan, politik, media dst. Dapat pada lapisan personal maupun pada lapisan struktural. Yang personal itu lebih menuju pada pembentukan sikap batin yang sosial dan solider dengan sesama. Yang struktural itu lebih mengacu pada penciptaan mekanisme-mekanisme kerja sama atau pola hidup, produktif.

4.

Kerugma = inti pengajaran Gereja; ini menunjuk pada pemahaman mengenai pengalaman beriman yang dapat tidak resmi maupun resmi (sebagai ajaran Gereja). Segi pengetahuan ini dapat disuburkan dengan katekesis, mistagogi, homili, tulisan dan pewartaan media yang lebih luas maupun audiovisual.

5.

Leiturgia = peribadatan; ini menyangkut ibadat resmi dan setengah resmi (yang sering dinamakan 'paraliturgi"). Liturgi hanya dapatj alan apabila umat memiliki pengalaman, tradisi dan pendidikan berdoa secara pribadi maupun kelompok. Liturgi tidak dapat tumbuh sendiri; perlu dibantu juga. Hal serupa dengan hidup doa; perlu dirangsang dan dibantu untuk berkembang dengan baik. Sebab dalam masyarakat kita ada banyak godaan juga untuk terjangkitnya penyakit liturgis (atau jadi tahyul atau jadi mendewa-dewakan aturan alias rubrik).

6.

Dalam aneka matra itu kita semua mengikuti pesan Tuhan sebelum diangkat ke Surga agar "kamu menjadi saksiKu..." Secara istimewa seorang yang dibunuh karena iman itu menjadi martir; tetapi hidup sebagai saksi Tuhan juga tidak ringan; bila kita memberi kesaksian hidup rukun dengan tetangga; bila kita membangun ekonomi rumah tangga atau perusahaan yang adil; bila kita menjadi pewarta Sabda Tuhan yang peka pada hasrat manusia; bila kita beribadat dengan khusuk dan sosial. Semua adalah ungkapan martyria kita; baik perseorangan maupun sebagai kelompok.


WARKAT 14 *Triwulan III* 2001